Tentang Surah al-Kahfi

Surah al-kahfi ini, katanya di sunnahkan di baca setiap malam Jum’at. Saya belum tau hadistnya seperti apa, tapi sepertinya memang itu benar. Jadi, belum sempat cari-cari tentang hadisnya, langsung baca aja surah al-kahfi, semoga ada inspirasi di sana. Continue reading

Advertisements

Tentang Pernikahan ( Tulisan Heru Wibowo)

Tentang pernikahan, Allah bilang waja’ala baynakum mawaddatan wa rohmah (QS Ar-Rum, 30:21). Kata-kata yang indah sekali. Kamu bisa terapkan kata-kata ini di sepanjang kehidupan pernikahanmu. Allah menempatkan diantaramu, antara suami-istri, cinta (mawaddah) dan kemurahan hati (rohmah). Continue reading

Tentang Yogyakarta

“Bang, saya sudah tiba di Jogja”, begitu pesan messenger saya kepada mahasiswa S2 antropologi UGM, yang kebetulan satu kampung dengan saya..

 

“Posisi dimana sekarang?” Balasnya

Langsung kukirimkan alamat lewat google map.

“Ok, habis magrib aku kesitu” Balasnya lagi..

 

***

Habis magrib, beliau datang ke Penginapan. Setelah sholat, dia langsung membawa saya ke Malioboro. Ya, Malioboro, tempat nongkrong yang terkenal di Yogyakarta itu. Disitu pula katanya, Dodit Micro sering menampilkan keahlian pantomim nya.

 

Anak perantauan, yang sudah lama tidak ketemu orang dengan bahasa yang sama, tentu adalah anugrah yang luar biasa kan, diantara ribuan orang, Tiba-tiba ketemu orang yang sama bahasanya denganmu. Sungguh, itu adalah kebahagian yang tidak bisa dirangkai dengan kata-kata.

 

Maka di bangku taman di Malioboro itu, kami bercerita banyak hal. Dengan ditemani secangkir Kopi, kami mengenang masa lalu di kampung. Bagaimana dulu di masa kami ketika tak mengaji, kami akan merasa malu karena semua orang mengaji. Wajar saja, karena dulu tak ada listrik, tak ada HP tak ada televisi.

 

Kemudian kami cerita tentang masa-masa perjuangan saat sekolah diperantauan. Bukan sesuatu yang mudah memang, tapi diperantauan kira benar-benar merasakan seperti apa Tuhan hadir dengan cinta-Nya. Bagaimana Rahmat-Nya hadir dengan begitu mesra di saat-saat yang tepat..

 

Tapi, setelah bicara banyak hal, Tiba-tiba percakapan itu menikung ke arah asmara. Ah kenapa harus ke arah sini?

 

Maka kuceritakan pula tentang kisahku, yang ujungnya adalah memaklumi nya sebagai sesuatu yang sudah di desain Tuhan. Dan kuceritakan pula padanya tentang wonderful couple itu. Dan gara-gara ini pula, saya membuka beberapa tulisan masa lalu, yang saat saya di panggil dengan “sahabat terkasih”

 

Hingga akhir pembicaraan adalah tentang informasi yang begitu banyak saat ini sehingga kita terkadang bingung mana informasi yang benar dan mana yang salah. Karenanya, kita tak perlu urus hal-hal seperti itu, kita cukup maksimalkan kita peran kita sebagai hamba Tuhan, yang tujuannya adalah memakmurkan kehidupan di bumi.

Dan juga harapan-harapan kami, semoga ke depan, adik-adik melanjutkan pendidikan di kota Jogja ini.

 

Yogyakarta, 11 Oktober 2019

 

 

 

 

 

 

[Transcrip Kartun Islami] Doa Favoritku Di Quran – Nouman Ali Khan

Ustadz Nouman Ali Khan menjelaskan apa yang dimaksud dengan “mata yang menjadi sejuk” dan “mata yang menjadi hangat“.

Ada sebuah ekspresi yang sangat luar biasa di dalam Al-Qur’an yang terungkap dalam dua kata. Dua kata itu adalah “Qurrota A’yun” (QS Al Furqaan ayat 74).

Penyejuk Mata“. Terjemahan sederhananya adalah penyejuk mata. Dan istilah ini juga beberapa kali ditemukan bahkan di dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sebelum saya menjelaskan kepada anda bagaimana istilah ini digunakan di dalam kitab suci. Saya ingin menjelaskan kepada anda bagaimana orang-orang Arab jaman dahulu menggunakan istilah ini sebagai gaya bahasa dalam pidato-pidatonya.

 

Ini benar-benar sebuah gaya bahasa. Kita tidak bisa memahaminya hanya dari segi bahasa, karena dia punya artinya jauh lebih dalam dari itu. Dalam idiom bahasa Arab ada dua ekspresi yang sering digunakan dan tanpa harus berbicara masalah teknisnya dengan kalian. Dua ekspresi itu adalah “Mata yang menjadi sejuk” dan “Mata yang menjadi hangat“. Saya ingin kalian mengetahui ini terlebih dahulu. Orang Arab punya dua istilah, yaitu “Mata yang menjadi sejuk” dan “Mata yang menjadi hangat“.

Ketika seseorang menangis karena sedih, mereka menderita karena suatu kejadian, mereka merasakan kesedihan yang mendalam dan mendapatkan musibah, maka ketika kau melihat mereka, kau akan berkata, “Matanya menjadi hangat.”

Salah satu kutukan yang paling buruk, kau bisa mengutuk seseorang dalam bahasa Arab kuno.

Semoga Allah membuat matanya menjadi hangat.”

Yang artinya adalah, “Semoga dia diberikan penderitaan yang paling buruk dalam hidupnya.”

Sementara itu, lawan katanya adalah “Mata yang menjadi sejuk.”

Karena penderitaanmu, kesedihanmu, rasa sakit yang menimpamu terhapus tak bersisa. Dan kau akan merasa sangat damai, tenang, dan bahagia tak terkira. Dan saya akan memberikan contoh sederhana bagaimana penggunaan “mata yang menjadi sejuk” dan “mata yang menjadi hangat” ini sebelum kita lanjutkan.

Bayangkan kita sedang berada di bandara, oke? Dan ada dua orang ibu. Seorang ibu dan anaknya, dan seorang ibu lain dengan anaknya juga. Tapi salah seorang ibu ini mengucapkan selamat tinggal untuk anaknya. Anaknya ingin berangkat ke suatu tempat. Sementara ibu yang lain menjemput anaknya yang baru datang dari suatu tempat. Dan kedua ibu ini sama-sama menangis.

Tapi salah seorang ibu ini, matanya menjadi sejuk. Sementara yang lain, matanya menjadi hangat. Yang satu menangis karena senang, karena akhirnya bisa bertemu dengan anaknya setelah sekian tahun. Dia juga menangis, tapi tangisnya menyejukkan mata.

Sementara ibu yang lain melepas kepergian anaknya, maka, disebut apa kejadian ini? Matanya menjadi hangat. Kalian paham perbedaanya? Oke?

Sekarang, arti lain dari istilah ini, sebelum saya melanjutkan lebih jauh, ada sebuah syair dalam bahasa Arab menyebutkan, “Anggota kelompokku, mata mereka akan tetap hangat.”

Dan orang yang membuat syair ini sebetulnya adalah seorang pembunuh. Ya, sebuah syair dari seorang pembunuh mungkin agak sedikit… Ini kebiasaan mereka, kau tahu… Jadi dia duduk di atas pasir dan dia menunggu untuk membunuh ketua kelompoknya yang sudah menyengsarakan anggotanya. Dan dia membuat syair sambil menunggu. Saya rasa, mungkin dia punya banyak waktu. Jadi si pembunuh ini berkata,

Mata anggota kelompokku akan tetap hangat, sampai pisauku hangat dengan darahnya (si pemimpin).”

Dengan kata lain, ketika saya membunuh orang ini, maka mata anggota kelompok akan menjadi sejuk. Kemarahan, frustasi, dan penghinaan mereka hanya akan hilang dengan kematian orang itu. Itulah yang saya (pembunuh) lakukan untuk membuat mata mereka menjadi sejuk. Kalian mengerti? Jadi itu artinya adalah untuk menghilangkan rasa frustasi, marah, dan rasa sakit. Itulah salah satu konteks di mana istilah ini digunakan.

Tapi ada satu konteks terakhir dalam literatur bahasa Arab yang ingin saya bagikan dengan kalian. Yang mana konteks ini sangat indah sekali sebenarnya. orang-orang Arab itu terbiasa berjalan di padang pasir. Kemudian ada badai pasir, dan selama badai pasir, kau tahu, orang Arab akan menutupi mukanya. Karena kau tahu, wajahmu pasti akan terkena pasir.

Sementara itu, unta yang mereka tunggangi. Allah telah menciptakan unta dengan bentuk yang sangat luar biasa. Kelopak mata unta akan menyaring pasir dan membuangnya, sehingga bahkan mereka tidak perlu berkedip. Seolah-olah mereka punya kaca anti-debu. Yang akan menyaring pasir dan membuangnya. Dan kita tidak punya itu, kau tahu… Semacam sistem pembersihan seperti itu di mata kita, tapi unta memilikinya.

Sekarang, si pengendara, dia tidak bisa menutup matanya kan? Karena kalau ia menutup matanya, apa yang akan terjadi? Dia tidak tahu harus berjalan ke arah mana. Jadi dia harus tetap membuka matanya hingga akhirnya dia menemukan sebuah gua, dia menemukan tempat berlindung. Dan menariknya adalah, dia berkata,

Akhirnya mataku menjadi sejuk.”

Dengan kata lain dari sisi literatur, kita dapat menyamakan istilah mata yang menjadi sejuk itu memiliki arti menemukan tempat berlindung dari badai. Menemukan tempat berlindung dari badai. Jadi sekarang saya sudah memberitahukan kepada kalian dalam kondisi apa saja istilah ini digunakan. Tapi saya belum memberitahukan yang mana yang menjadi do’a favorit saya. Sebagaimana yang sudah saya baca di awal tadi.

Do’a ini diambil dari surah ke-25 di dalam Al-Qur’an. (QS Al Furqaan ayat 74). Allah ‘azza wa jalla berkata,

Rabbanaa

Allah ingin kita berkata,

Wal-ladziina yaquuluuna.”

Mereka yang berkata,

Robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a’yun.”

Waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa.”

Ya Tuhan kami, Tuan kami, berikan kami, kabulkan untuk kami. Kau tahu di dalam Qur’an kita menemukan kata “aatina“, berikan kami.

a’thinaa“, berikan hadiah yang besar untuk kami.

Tapi “hab” berarti berikan kepada kami hadiah yang tidak disangka-sangka. Hadiah yang indah, “hab lanaa“.

Ini adalah hadiah yang anda minta kepada Allah untuk memberikannya kepadamu. Dan kata “lanaa” adalah sebuah “muqoddam“.

Preposisi ini disebutkan terlebih dahulu, (bermakna) khususnya bagi kami. Kita sedang meminta sesuatu yang spesial kepada Allah. Dan apa yang kita minta kepada Allah ‘azza wa jalla?

Berikan kepada kami, dari pasangan kami dan tidak hanya anak-anak kami yang harusnya “awlaad“, (tapi) “dzurriyyaatinaa“, kau tahu “dzurriyyaatinaa?

Generasi berikutnya dari kita. Kau tahu, yang kau minta bukan hanya untuk anakmu nanti, tapi dari anak keturunanmu, entah beberapa generasi setelahmu. Berikan kepada kami dari mereka semua, “kesejukan mata“.

Jadikan mata kami sejuk dengan adanya pasangan kami dan anak-anak kami. Dan saya mengatakan ini do’a favorit saya untuk sebuah alasan ketika saya menikah dan tentunya saya punya anak dan pasangan.

Tapi kami, kita semua, kita semua harus belajar mengapresiasi kekuatan do’a ini
atas krisis yang terjadi di dunia sekarang ini. Institusi dasar dari keluarga di seluruh dunia saat ini sedang diserang. Sebagian besar dari kita di sini dan keluarga muslim juga termasuk banyak rumah tangga kita saat ini.

Badai yang tadi saya ceritakan, matamu menjadi sejuk ketika kau menemukan tempat berlindung dari badai. Badainya itu bukan ada di luar rumah. Badainya itu justru berasal dari dalam rumah.

Dan kalian akan melarikan diri dari rumah agar terhindari dari celotehan, teriakan, dan panggilan-panggilan kasar, dan hujatan dan depresi, kesedihan, dan gesekan antara suami istri, dan antara orang tua dan anak. Rumah kita hancur, saudara tidak saling menyapa, orang tua tidak mau berbicara dengan anaknya, berapa banyak yang… semua syeikh.

Saya hampir berani bertaruh bahwa semua pembicara yang pernah datang ke sini. Ada ibu-ibu, ada bapak-bapak, ada para suami, ada para istri yang datang kepada mereka dan berkata,

Aku punya masalah ini.”

Aku tidak bisa berbicara dengan anakku.”

Dia berteriak kepadaku.”

Aku tidak bisa berbicara dengannya.”

Dia melakukan sesuatu dan aku tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.”

Suamiku begini.”

Istriku begitu.”

Suamiku begini.”

Subhanallah. Ini adalah krisis yang terjadi di dalam rumah dan do’a apa yang lebih baik untuk diucapkan? Lawan dari semua kejadian itu. Kau tahu, keluarga sudah menjadi tempat penderitaan, depresi, dan kesedihan, dan marahan, dan kekesalan.

Orang merasa ingin jauh dari sana. Dan di sini, Allah mengajarkan kita untuk meminta
dengan sangat sempurna dan sangat mengesankan bahwa rumah harusnya menjadi tempat berlindung.

Seolah-olah dunia luar itu adalah badai dan kau menderita berada di luar. Dan tempat berlindungmu, surgamu adalah pintu rumahmu, istrimu, anakmu. Ketika melihat mereka kekhawatiranmu hilang.

 

Selama Ini, Sepertinya Kita Salah

 

Kesalahan saya adalah Saya selalu berpikir bahwa kalau saya tidak bantu, kalau saya tidak mau mendengar lagi, lalu kepada siapa lagi ia harus bercerita. Bukankah setiap manusia, butuh tempat untuk berbagi.

 

Tapi, sepertinya itu salah di mata Tuhan. Merasa bahwa hanya saya yang bisa membantu adalah bentuk kesomobongan, mungkin saja. Adalah lebih baik, berikan ia kesempatan berbagi dengan Tuhan nya. Layaknya Maryam yang mengadu dalam kesendirian,

“Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.”

 

Tuhan tidak melupakan Maryam. Ia kirimkan Malaikat sebagai penenang hati Maryam.

“Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, “Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”

 

Meskipun saya tahu tentang kisah itu. tapi tetap saja, ada keinginan untuk melakukan hal-hal seperti biasa tetap saja ada. Seakan saya masih takut kalau-kalau terjadi hal yang tidak baik. Bingung. what should I do?

 

***

 

Kelas http://www.jalankembali.com  mempertemukan saya dengan Ust. Nasrullah. Di sesi garputala lewat bimbingan online ust. Nasrullah, saya niatkan minta jawaban lewat Qur’an atas masalah saya. Petunjuk ust, saya ikuti pelan-pelan

“Ya Allah, aku memiliki persoalan ini,” begitu awal self talk yang diajarkan ust.Nasrullah. “Saya sadar ada peran kesalahan  saya hingga masalah yang kami hadapi hadir dalam hidup saya. Tolong saya Tuhan, titipkanlah  satu ayatmu yang bisa membuat saya jauh lebih tenang dan mengetahui rahasia di balik peristiwa ini dan saya bisa mendapatkan solusi dari-Mu. Alfatihah….

 

Pelan-pelan saya buka Qur’an, dan akhirnya, mata saya tertuju pada surah an-Nahl ayat 77

“Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”

 

Ayat ini menyadarkan saya, bahwa apa yang saya lakukan selama ini adalah hal yang salah. Sepertinya, yang kita lakukan selama ini salah kawan.  Sebaiknya, kita kembali saja mengabdi ke Tuhan dengan peran kita masing-masing. Adapun tentang kita, lupakan saja. Saling mendoakan adalah lebih baik, daripada kembali seperti biasa selama ini kita lakukan. I think, it’s good for us. Semoga Allah memberkahi langkah kita semua. Aamiin.

 

 

Tanyakan ke Maa Najaa, Seperti Apa Rindu Itu

Kegagalan penyerbuan ke Wajo, bukan hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga membawa sang raja harus kehilangan nyawa. Raja Gowa ke-12, I Manggari Daeng Mameta, gugur dalam perjalanan pulang.

 

Tragisnya, ia dibunuh oleh pengawalnya sendiri yang diam-diam menaruh dendam kepadanya. Si pengawal menusuk dari belakang raja yang seharusnya ia lindungi. Sang raja tidak bisa berbuat apa-apa, sampai ia harus gugur di tangan pengawalnya sendiri. Continue reading

BELAJAR KEPADA SALMAN AL FARISI

SALMAN Al Farisi adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang berasal dari Persia. Salman sengaja meninggalkan kampung halamannya untuk mencari cahaya kebenaran. Kegigihannya berbuah hidayah Allah dan pertemuan dengan Nabi Muhammad saw di kota Madinah. Beliau terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah ketika kaum kafir Quraisy Mekah bersama pasukan sekutunya datang menyerbu dalam perang Khandaq.

Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai pacar. Tetapi sebagai sebuah pilihan untuk menambatkan cinta dan membangun rumah tangga dalam ikatan suci. Continue reading