Tentang Jat(u)h

jatuhh

Wisuda adalah hari yang menyenangkan. Namun hari-hari setelah wisuda adalah hari yang menjemukan. Membosankan. Ditengah kebosanan, hanya ada beberapa buku yang bisa menemani. Bosan dengan buku hipnowriting, pindah ke covert selling. Tiba-tiba hari ini, ketemu lagi buku Jatuh, karya Azhar Nurun Ala. Continue reading Tentang Jat(u)h

Advertisements

Satu

Haura tersentak. Tubuhnya mengerut. Wajahnya diselimuti kepanikan memandangi pintu ruang tamu. Suara ketukan yang makin keras dan berubah menjadi gedoran kasar memecah kesunyian malam. Membangunkan dan segera menyergapnya dalam kegundahan. Ketukan, semakin lama semakin lantang, meneror isi pikiran dan seluruh persendian, kini bahkan diiringi kegaduhan seperti bebunyian pada sebuah puncak ritual.

“Keluar kalian! Atau rumah ini kami bakar!” Kalimat singkat tapi jelas ancamannya.

Ia menggerakan kaki yang terasa lemas, mendekati jendela. Hati-hati mengintip. Terlihat kerumunan tetangga dan beberapa warga yang dikenali wajahnya, namun tidak mampu berbuat banyak. Hanya berdiri di tengah keramaian, menyaksikan asal suara riuh di depan rumah pasangan yang baru menikah.

Diantara sekelompok orang yang meluapkan kemarahan, ada yang membawa parang, kayu panjang, linggis, tongkat baseball, dan obor serta beberapa benda menakutkan. Tetapi kemarahan mereka sama dan jelas ditujukan untuk siapa.

Tak hanya berteriak, tangan-tangan bergerak ganas, melempari batu dan apa saja yang ditemukan untuk meluapkan emosi. Seolah dendan yang terpendam kini menemukan muaranya.

Allah beri, hamba kekuatan.

Haura memberanikan diri melangkah  pelan ke arah pintu. Wanita berjilbab panjang itu berniat mengahadapi massa. Sejak kecil dia memang tidak di didik untuk melarikan diri atau bersembunyi ketika terjadi hal-hal yang tidak sesuai harapan. Namun kenyataan yang dihadapi saat ini, beda jauh dari pertahanan emosi yang sudah ia latih dan siapkan.

“langkah pertama menyelesaikan permasalahan dalam hidup adalah dengan menghadapinya.” Kalimat abah sampil mengusap lembut kepalanya, ketika dengan terisak Haura kecil menceritakan ulah teman-teman sekelas yang suka mengolok-olok. Upaya psikologis untuk meredakan ketegangan. Dan Haura kecil lambat laun paham.

Petuah-petuah lain dari lelaki berwajah bijak menabahkannya tidak hanya selama sekolah, bahkan bertahun kemudian. Hadapi, jangan hindari. Dan untuk mampu berdiri kokoh, menyambut rupa-rupa persoalan dalam hidup, seseorang hanya harus menghimpun menghimpun sedikit keberanian.

“Di dunia ini Cuma ada dua jenis manusia, pemberani atau pecundang. Tak bisa pemberani sekaligus pecundang atau sebaliknya.” Begitu Abah menutup nasihatnya.

Bismillah.

Haura mengepalkan tangan, mengumpulkan segenap nyali yang dia punya. Semoga dengan menjelaskan baik-baik, dia mampu meredam kemarahan. Mudah-mudahan mereka  mengerti walau suaminya sedang tidak berada di rumah, imam dalam hidupnya Insya Allah akan tetap bertanggun jawab.

Belum sempat pintu di buka, raungan sirene terdengar dari kejauhan. Kelompok orang yang marah tersengat kepanikan, berlari membubarkan diri. Beberapa bertahan sejenak, sekadar menunjukan kegarangan dan memastikan akan kembali.

Wanita berparas manis itu bernapas lega. Setidaknya malam ini bisa tidur tenang. Alhamdulillah.

“Selamat malam, kami dari kepolisian.”

Haura memutar gagang pintu. Berdiri di depannya, seorang petugas berseragam didampingi ketua dan sekretaris RT. Sementara dua aparat bersenjata mengitari sekeliling, berjaga mengamati situasi. Dengan polos tapi santun, Haura mempersilahkan mereka masuk. Akan tetapi, sang petugas hanya menyampaikan surat dan meminta Haura segera datang ke kantor kepolisian untuk memberikan keterangan.

Keramaian bertubi-tubi meninggalkan hening yang menusuk-nusuk. Setelah dia tepekur sendiri di ruang tamu. Merenung.

Baru delapan belas hari usia pernikahan, Haura harus menghadapi ini semua. Padahal sebelum ini, dialah gadis yang beruntung. Semua sepakat, dewi fortuna seolah enggan beranjak dari sisi.

Usianya baru genap 20 tahun ketika di pinang. Bahkan gelar sarjana belum lagi teraih. Tidak berhenti di sana, Dewa Eka Praoga, pria yang melamar, dikenal sebagai salah satu mahasiswa tersukses di kampus. Bahkan, baru saja berhasil mengumpulkan satu miliar pertamanya di usia muda.

Untuk ukuran lelaki di awal usia dua puluhan, bisa di bilang, calon suami  memliki segalanya.

Saat pemuda sebaya lain, masih fokus kuliah, menganggur atau menunggu jawaban, antrean lamaran kerja, sang tambatan hati sudah mempunyai kantung penghasilan dari berbagai pintu. Usaha bimbingan belajar dengan jumlah murid yang terus bertambah,royalti buku yang mengalir, serta restoran dengan menu spesial, mengisi pundi-pundi kekayaan.

Di masa kuliah, lelaki yang kemudian menikahinya, sudah terbang dari barat hingga timur Indonesia, memberi semangat wirausaha kepada sesama mahasiswa. Menjadi pembicara populer yang di undang ke berbagai wilayah Indonesia.

“Jadilah pengusaha!”

Semangat yang selalu ditanamkan Dewa pada mahasiswa disetiap kampus yang dikunjungi.

Kepercayaan lingkungan pada suaminya sangat tinggi, sehingga ketika lelaki itu mengikuti bisnis investasi, dia begitu mudah menggalang modal. Kenyataan yang semakin melambungkan kekayaan mereka.

Haura menikah dengan seorang mahasiswa cemerlang,pengusaha sukses, sekaligus investor gemilang. Sungguh bidadari, seperti arti namanya, yang beruntung.

Tapi takdir selalu punya cara sendiri untuk menguji iman seseorang. Tanpa bersedia menunggu lama, pendar pelangi di rumah mereka berangsur tertutup awan pekat.

Allah Maha Pembolak-balik, tak hanya hati, juga nasib seseorang.setelah menapaki awan kehidupan yang berlimpah kemudahan, kini bersama suami terlempar dalam jurang kebangkrutan, dan semua terjadi dalam hitungan hari.

Namun bukan itu satu-satunya konsekuensi yang menanti. Bayang-bayang teralis mengintai. Kelam kehidupan penjara yang tidak sabar melahap pemuda yang dengan nama Allah, telah diterimanya sebagai pendamping. Ah, bagaimana dia mampu melepas lelaki itu ke pekat masa depan?

Penjara di depan mata.

Sekali lagi, Haura menghembuskan napas.

Tidak,dia tidak heran akan suara-suara sekitar yang memperdengarkan dengungan berbeda.

“Penipu!”

“Pembawa nasib buruk!”

“Pembawa kehanucuran!”

Haura,perempuan pembawa sial. Label baru yang kini disematkan di dadanya.

from novel Bidadari untuk Dewa karya Asma Nadia

 

Ujian Skripsi dan Sebuah Mitos

“Di banyak perguruan tinggi yang saya amati, ujian (khususnya ujian skripsi) adalah ajang yang paling mendebarkan bagi kaum terpelajar. Di situ, para guru besar akan menampilkan kebesarannya sebagai penilai yang menentukan layak tidaknya seseorang menjadi kaum terpelajar. Bagi seorang mahasiswa, ujian seringkali menjadi ajang di bantai dari banyak lini. Dalam setiap ujian, para penguji akan mencari kesalahan sebanyak-banyaknya lalu mendebat mahasiswa itu hingga kehilangan kata.” Continue reading Ujian Skripsi dan Sebuah Mitos

Desa dan Era Internet

Tulisan ini saya tulis setelah membaca tulisan Yusran Darmawan di blog pribadinya timur-angin.com yang berjudul “Literasi hebat untuk desa”. Melalui tulisannya Yusran Darmawan menceritkan pengalamannya, ketika berkunjung ke Berau, Kalimantan Timur. Ia menyaksikan bagaimana aparat desa membeli sound system,gitar listrik, dan elekton yang dijadikan sebagai inventaris desa. Ketika ditanya kenapa mereka membeli alat-alat tersebut, pihak desa berasalasan bahwa segala pembangunan di desa sudah dilakukan oleh pemerintah pusat. Sekolah sudah bagus, jalan sudah bagus. Seakan kehabisan ide, aparat desa akhirnya memutuskan untuk membeli alat-alat tadi.  Continue reading Desa dan Era Internet

Pesan-Pesan dari Desa

Hari raya idul fitri bagi masyarakat Indonesia, tidak bisa lepas dari yang namanya mudik. Yah, mudik, tradisi pulang ke kampung halaman. Pada saat itu, kota yang biasanya penduduknya padat, menjadi sunyi dan sepi, yang sebenarnya sangat menguntungkan bagi warga yang tingal di kota, karena tidak akan ada lagi kemacetan. Namun, masalah bagi perkotaan akan bertambah ketika  hari raya telah usai. Biasanya mereka yang pulang kampung, akan mengajak satu atau dua sanak family untuk ikut ke kota. Akibatnya, setiap tahun, kota selalu mengalami pertambahan  penduduk, yang pada akhirnya juga menimbulkan ketatnya persaingan  kerja. Continue reading Pesan-Pesan dari Desa

Yang Tak Hilang Dari Masa Lalu

editSelain taqwa dan keadilannya, apa yang paling menarik dari seorang laki-laki yang digelari Khulafaur Rasyidin kelima itu?

Gaya jalannya.

“Adalah para gadis” demikian imam Abdullah ibn Abdil Hakam merekam dalam karyanya yang bertajuk al Khalifatul Adil, “menjadikan gaya jalan Umur bin Abdul Aziz itu sebagai ukuran keanggunan dan pesona. Mereka berupaya keras melatihnya agar bisa berserupa dan membanggakannya. Inilah lenggang dan liuk langkah penuh gaya ala pemuda kebanggaan Bani Umayyah.” Continue reading Yang Tak Hilang Dari Masa Lalu